Anda memiliki passion di bidang kuliner dan sedang mencari ide bisnis yang potensial dan banyak diminati? Jika iya, membuka usaha pecel lele bisa menjadi salah satu ide usaha yang patut Anda pertimbangkan. Akan tetapi, sebelum memulainya, ada baiknya Anda mempelajari terlebih dahulu terkait analisa usaha pecel lele.
Dengan begitu, Anda dapat memperoleh gambaran yang lebih baik apakah kelayakan dan keuntungan usaha ini sepadan dengan modal yang akan Anda keluarkan. Mari mulai penjelasannya!
Peluang dan Kelayakan Usaha Pecel Lele

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pecel lele termasuk salah satu primadonanya kuliner malam. Menu sederhana ini bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota, mulai dari warung tendaan hingga rumah makan. Hampir semua orang kalangan menyukainya, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga keluarga.
Cita rasa gurih dari lele goreng atau bakar yang berpadu dengan sambal tomat pedas, nasi hangat, dan lalapan segar, tidak heran jika pecel lele selalu laris di pasaran. Selain lezat dan memiliki pasar yang luas, bahan bakunya juga mudah didapat dan tidak mahal (karena harga ikan lele di pasaran cenderung stabil).
Menariknya lagi, usaha ini juga bisa dikembangkan secara kreatif. Misalnya, Anda bisa menambahkan varian menu seperti:
- Variasi lele: lele bakar madu, lele fillet, dll.
- Variasi sambal: sambal ijo, sambal terasi, sambal mangga, sambal tomat terasi, sambal bawang, dll.
- Variasi nasi: nasi uduk, nasi tauco, nasi liwet, dll.
- Variasi menu pendamping: kol goreng, jukut goreng, sate-satean, menu ayam, dll.
Pecel lele juga termasuk jenis makanan yang tidak mengenal tren musiman, sehingga perputaran penjualannya relatif stabil sepanjang tahun. Jadi, dari sisi kelayakan, usaha pecel lele cukup unggul karena dapat Anda jalankan dengan modal yang tidak terlalu besar, tapi memberikan keuntungan yang konsisten.
Estimasi Modal untuk Memulai Usaha Pecel Lele

Setelah memahami peluangnya, langkah analisa usaha pecel lele selanjutnya adalah menghitung kebutuhan modal, di antaranya:
Biaya Investasi Awal
| Peralatan | Kisaran Harga |
| Gerobak | Rp2.000.000 |
| Kursi dan meja | Rp250.000 |
| Peralatan makan dan wadah penyaji | Rp150.000 |
| Terpal | Rp300.000 |
| Tikar | Rp150.000 |
| Total | Rp2.850.000 |
Catatan: Bersifat angka panjang dan hanya perlu diperbarui jika ada kerusakan atau ingin memperbesar skala usaha.
Biaya Tetap (Bulanan)
| Pengeluaran | Kisaran Biaya |
| Gaji karyawan | Rp1.000.000 |
| Biaya transportasi | Rp100.000 |
| Sewa tempat | Rp500.000 |
| Listrik dan air | Rp300.000 |
| Biaya penyusutan peralatan | Rp50.000 |
| Total | Rp1.950.000 |
Biaya Variabel (Harian)
| Pengeluaran | Kisaran Biaya |
| Pembelian bahan makanan dan minuman | Rp500.000 |
| Pembelian alat dan bahan pembersih | Rp50.000 |
| Minyak goreng | Rp50.000 |
| Total | Rp800.000 |
Catatan: Besarnya biaya variabel ini tentu akan berbanding lurus dengan jumlah pelanggan dan bahan baku yang dibutuhkan. Jika penjualan meningkat, maka biaya variabel juga ikut naik, namun keuntungannya pun akan lebih besar.
Perkiraan Omset, Laba, dan Break-Even Point (BEP)
Analisa usaha pecel lele kurang lengkap rasanya jika tidak mengetahui perhitungan omset, laba, dan periode balik modalnya. Analisis keuangan ini akan membantu Anda memperkirakan berapa banyak porsi yang harus terjual setiap hari agar usaha bisa bertahan dan berkembang:
Perkiraan Omzet Bulanan (3 Skenario Penjualan)
Katakanlah Anda mematok harga jual pecel lele per porsi Rp15.000 dan warung Anda buka 26 hari dalam sebulan. Maka, perkiraan omzetnya dihitung:
- Jika berhasil menjual 80 porsi/hari: Rp15.000 x 80 x 26 = Rp31.200.000
- Jika berhasil menjual 120 porsi/hari: Rp15.000 x 120 x 26 = Rp46.800.000
- Jika berhasil menjual 160 porsi/hari: Rp15.000 x 160 x 26 = Rp62.400.000
Estimasi Laba Bersih Bulanan
Untuk mengetahui laba bersih, Anda perlu menghitung total biaya operasional bulanan. Berdasarkan data sebelumnya:
- Biaya variabel bulanan: Rp15.600.000 (biaya harian x jumlah hari operasional per bulan)
- Biaya tetap bulanan: Rp1.950.000
- Total biaya: Rp17.550.000
Laba bersih per skenario:
- Omzet Rp31.200.000 → Laba = 31.200.000 − 17.550.000 = Rp13.650.000/bulan
- Omzet Rp46.800.000 → Laba = 46.800.000 − 17.550.000 = Rp29.250.000/bulan
- Omzet Rp62.400.000 → Laba = 62.400.000 − 17.550.000 = Rp44.850.000/bulan
Perhitungan BEP dan Payback Period
Dalam analisa usaha pecel lele, memahami titik impas atau Break Even Point (BEP) sangat penting untuk mengetahui kapan bisnis mulai menghasilkan keuntungan. BEP menunjukkan jumlah minimal porsi yang harus terjual agar semua biaya (baik tetap maupun variabel) tertutupi. Berdasarkan perhitungan:
- Total biaya bulanan: Rp17.550.000
- Hari operasional per bulan: 26 hari
- Pendapatan harian yang dibutuhkan: Rp17.550.000 ÷ 26 = Rp675.000/hari
- Harga jual per porsi: Rp15.000
Dari sini, Anda dapat menghitung BEP dengan rumus:
- BEP = Pendapatan harian ÷ Harga jual per porsi
- BEP = 675.000 ÷ 15.000 = 45 porsi/hari
Artinya, Anda hanya perlu menjual sekitar 45 porsi pecel lele setiap hari untuk menutup seluruh biaya operasional. Jumlah ini sangat realistis, terutama jika warung Anda berada di area ramai seperti pinggir jalan utama, dekat kampus, atau kawasan perkantoran.
Selain BEP, hal lain yang penting dalam analisa usaha pecel lele adalah menghitung Payback Period, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal awal usaha. Rinciannya sebagai berikut:
- Modal awal: Rp2.850.000
- Penjualan rata-rata per hari: 80 porsi
- Omset harian: 80 × 15.000 = Rp1.200.000
- Biaya variabel harian: Rp600.000
- Biaya tetap per hari (1.950.000 ÷ 26): ±Rp75.000
Dengan demikian diperoleh laba harian = 1.200.000 − (600.000 + 75.000) = Rp525.000, sehingga waktu balik modalnya adalah:
- Payback = Modal awal ÷ Laba harian
- Payback = 2.850.000 ÷ 525.000 = sekitar 5 hari
Artinya, jika warung Anda konsisten menjual 80 porsi setiap hari, modal usaha bisa kembali hanya dalam waktu kurang dari satu minggu.
Nah, dari hasil analisa usaha pecel lele di atas, Anda bisa menyimpulkan bahwa bisnis ini tak hanya cepat balik modal, tapi juga cukup menjanjikan karena tahan banting. Dengan menjaga kualitas rasa, pengelolaan keuangan, dan pemilihan lokasi yang strategis, bisnis sederhana ini bisa menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan.




