Banyak wajib pajak beranggapan bahwa menggabungkan SPT Tahunan suami istri selalu membuat pajak menjadi lebih besar. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak selalu benar. Dalam kondisi tertentu, justru SPT digabung bisa lebih menguntungkan dibandingkan pelaporan terpisah.
Artikel ini membahas secara lengkap kapan dan dalam kondisi apa SPT Tahunan digabung justru lebih efisien, lengkap dengan logika perpajakan dan simulasi sederhana agar mudah dipahami.
Prinsip Dasar Pajak Suami Istri di Indonesia
Dalam sistem pajak Indonesia, suami dan istri dipandang sebagai satu kesatuan ekonomis. Oleh karena itu, secara default:
- Penghasilan istri digabung dengan penghasilan suami
- Pajak dihitung dari total penghasilan keluarga
Namun, undang-undang memberikan opsi pengecualian bagi istri yang bekerja dan memenuhi syarat tertentu, sehingga pajak dapat dikenakan secara terpisah.
Karena ada dua opsi inilah, muncul pertanyaan penting:
Dalam kondisi apa SPT digabung justru lebih menguntungkan?
Faktor Penentu: Bukan Digabung atau Terpisah, Tapi STRUKTUR PENGHASILAN
Kunci efisiensi pajak bukan semata-mata pada metode pelaporan, melainkan pada:
- Besaran penghasilan suami
- Besaran penghasilan istri
- Perbedaan lapisan tarif pajak
- Pemanfaatan PTKP
Jika struktur penghasilan tidak tepat, penggabungan bisa mendorong pajak ke tarif lebih tinggi. Sebaliknya, dalam kondisi tertentu, penggabungan justru menurunkan total pajak keluarga.
Kondisi 1: Penghasilan Istri Relatif Kecil
Contoh Kasus
- Suami: Rp600.000.000 per tahun
- Istri: Rp60.000.000 per tahun
- Status: K/0
Jika SPT dilaporkan terpisah:
- Penghasilan istri setelah biaya jabatan hampir habis oleh PTKP
- Namun PTKP istri berdiri sendiri, tidak membantu suami
Jika SPT digabung:
- Penghasilan istri ikut digabung
- PTKP keluarga tetap satu
- Tambahan penghasilan istri belum mendorong ke lapisan tarif lebih tinggi
👉 Hasilnya:
Pajak keluarga relatif sama atau bahkan sedikit lebih rendah jika digabung karena:
- Tidak terjadi lonjakan tarif
- Administrasi lebih sederhana
Kesimpulan kondisi ini:
âś” SPT digabung bisa lebih menguntungkan atau setidaknya netral
Kondisi 2: Salah Satu Pasangan Penghasilannya di Bawah PTKP
Ini adalah kondisi yang sering terjadi tetapi jarang disadari.
Contoh
- Suami bekerja penuh
- Istri hanya bekerja paruh waktu atau freelance
- Penghasilan istri < Rp54.000.000 per tahun
Jika SPT dilaporkan terpisah:
- Penghasilan istri tidak kena pajak
- Namun PTKP istri tidak bisa dimanfaatkan oleh suami
Jika SPT digabung:
- Penghasilan istri tetap tidak signifikan
- Seluruh penghasilan keluarga dikompensasi dengan PTKP keluarga
👉 Dalam praktik, hasil pajak sama atau lebih efisien saat digabung, karena:
- Tidak ada pajak tambahan signifikan
- Administrasi SPT lebih sederhana
Kondisi 3: Selisih Penghasilan Suami dan Istri Sangat Jauh
Ketika satu pihak berpenghasilan sangat besar dan yang lain jauh lebih kecil, penggabungan belum tentu buruk.
Ilustrasi Singkat
- Suami: Rp1.200.000.000
- Istri: Rp100.000.000
Jika terpisah:
- Pajak istri tetap dikenakan tarif 5%–15%
- Pajak suami sudah masuk lapisan tinggi
Jika digabung:
- Tambahan penghasilan istri tidak signifikan terhadap total
- Tidak banyak mendorong kenaikan tarif
👉 Dalam beberapa simulasi, selisih pajak sangat kecil, sehingga:
- Digabung lebih praktis
- Risiko administrasi lebih rendah
Kondisi 4: Istri Tidak Memenuhi Syarat Pajak Terpisah
Ini kondisi wajib digabung, bukan pilihan.
SPT harus digabung jika:
- Istri tidak bekerja
- Penghasilan istri berasal dari suami
- Istri tidak memiliki NPWP
- Pajak istri tidak dipotong PPh 21 oleh pemberi kerja
Dalam kondisi ini:
- Memaksakan laporan terpisah justru berisiko koreksi pajak
- Digabung adalah opsi paling aman secara hukum
Kondisi 5: Fokus Kepatuhan dan Minim Risiko Pemeriksaan
Tidak semua keputusan pajak murni soal nominal.
Beberapa keluarga memilih SPT digabung karena:
- Ingin pelaporan sederhana
- Menghindari kesalahan pengisian SPT
- Mengurangi risiko mismatch data bukti potong
Dalam kondisi penghasilan tidak ekstrem, selisih pajak kecil sering dianggap sepadan dengan:
- Kemudahan administrasi
- Kepastian kepatuhan
Kesalahan Umum dalam Menentukan Pilihan SPT
Banyak wajib pajak langsung memilih:
❌ “Pokoknya terpisah lebih murah”
❌ “Pokoknya digabung lebih aman”
Padahal yang benar:
âś… Harus dihitung dan disimulasikan terlebih dahulu
Kesalahan ini sering menyebabkan:
- Pajak dibayar lebih besar dari seharusnya
- Atau justru muncul kurang bayar saat pemeriksaan
Cara Menentukan Pilihan yang Paling Tepat
Sebelum memilih SPT digabung atau terpisah, sebaiknya:
- Hitung penghasilan neto masing-masing
- Tentukan PKP
- Simulasikan pajak dengan dua metode
- Bandingkan total pajak keluarga
Langkah sederhana ini dapat menghemat puluhan juta rupiah dalam setahun.
Kesimpulan
SPT suami istri tidak selalu lebih untung jika terpisah. Dalam kondisi tertentu—terutama ketika penghasilan istri kecil, di bawah PTKP, atau selisih penghasilan sangat jauh—SPT digabung justru bisa lebih efisien atau setidaknya tidak merugikan.
Kunci utamanya adalah:
Struktur penghasilan, bukan status pelaporan.
Dengan memahami pola ini, wajib pajak dapat membuat keputusan yang lebih tepat, efisien, dan sesuai ketentuan.
Catatan
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Hasil perhitungan pajak dapat berbeda tergantung kondisi aktual, perubahan regulasi, dan status keluarga masing-masing wajib pajak.



