6 Kesalahan Pajak Suami Istri yang Bisa Memicu Pemeriksaan DJP (Wajib Dihindari!)

6 Kesalahan Pajak Suami Istri yang Bisa Memicu Pemeriksaan DJP (Wajib Dihindari!)

Bagi pasangan suami istri, kewajiban pajak sering kali terasa lebih kompleks dibanding wajib pajak lajang. Dua sumber penghasilan, perubahan status pernikahan, hingga aturan penggabungan membuat pelaporan SPT menjadi lebih menantang.

Sayangnya, masih banyak pasangan yang melakukan kesalahan tanpa disadari.

Padahal dalam beberapa kasus, kekeliruan dalam pelaporan pajak dapat memicu:

πŸ‘‰ permintaan klarifikasi
πŸ‘‰ pembetulan SPT
πŸ‘‰ sanksi administrasi
πŸ‘‰ bahkan pemeriksaan pajak

Karena itu, memahami kesalahan yang paling sering terjadi adalah langkah penting agar kewajiban perpajakan tetap aman.

Artikel ini akan membahas:

βœ… Kesalahan fatal suami istri dalam pajak
βœ… Situasi yang berisiko diperiksa
βœ… Cara menghindarinya
βœ… Strategi aman saat lapor SPT

Mengapa Pajak Suami Istri Lebih Berisiko Salah?

Secara sistem, keluarga dipandang sebagai satu kesatuan ekonomi. Namun praktiknya tidak selalu sesederhana itu.

Kesalahan biasanya muncul karena:

  • tidak memahami aturan penggabungan
  • lupa melaporkan penghasilan pasangan
  • salah memilih status pajak
  • data tidak sinkron

Yang perlu dipahami:

Pemeriksaan pajak sering dipicu oleh ketidaksesuaian data β€” bukan semata karena penghasilan besar.

Kesalahan #1 β€” Tidak Melaporkan Penghasilan Istri

Ini salah satu kesalahan paling umum.

Misalnya:

πŸ‘‰ istri bekerja tetapi penghasilannya tidak dimasukkan ke SPT
πŸ‘‰ penghasilan dianggap tidak perlu dilaporkan
πŸ‘‰ bukti potong diabaikan

Padahal otoritas pajak menerima data langsung dari pemberi kerja.

Jika data tidak muncul di SPT?

πŸ‘‰ Sistem dapat menandainya.

Cara Menghindari:

βœ” Selalu cek bukti potong
βœ” Pastikan seluruh penghasilan tercatat
βœ” Jangan berasumsi β€œtidak apa-apa”

Kesalahan #2 β€” Salah Menentukan Status Penggabungan

Tidak semua pasangan harus menggabungkan penghasilan, tetapi tidak semua juga boleh memisahkan.

Kesalahan biasanya terjadi ketika:

πŸ‘‰ pasangan menggabungkan padahal seharusnya tidak
πŸ‘‰ atau memisahkan tanpa dasar yang jelas

Akibatnya?

Perhitungan pajak bisa menjadi tidak akurat.

Strategi Aman:

Tentukan sejak awal:

  • ada pisah harta atau tidak
  • sumber penghasilan istri
  • jumlah pemberi kerja

Status pajak adalah fondasi pelaporan.

Kesalahan #3 β€” Lupa Melaporkan Penghasilan Tambahan

Selain gaji, banyak pasangan memiliki:

  • penghasilan freelance
  • usaha sampingan
  • honorarium
  • komisi

Sering dianggap kecil β€” lalu tidak dilaporkan.

Padahal akumulasi data bisa terlihat oleh sistem.

Tips:

πŸ‘‰ Catat setiap penghasilan, sekecil apa pun.

Lebih baik transparan daripada harus melakukan pembetulan.

Kesalahan #4 β€” Data Harta Tidak Sesuai dengan Penghasilan

Ini termasuk pemicu pemeriksaan yang cukup sering.

Contoh:

πŸ‘‰ membeli properti mahal
πŸ‘‰ menambah kendaraan
πŸ‘‰ memiliki investasi besar

Tetapi penghasilan terlihat tidak mencukupi.

Ketidaksesuaian ini dapat menimbulkan pertanyaan.

Cara Aman:

Pastikan pelaporan harta mencerminkan kemampuan ekonomi.

Kesalahan #5 β€” Tidak Memperbarui Status Pernikahan

Perubahan status sangat memengaruhi pajak.

Namun banyak yang lupa memperbaruinya.

Misalnya:

πŸ‘‰ masih tercatat lajang
πŸ‘‰ tidak menambahkan tanggungan
πŸ‘‰ NPWP belum disesuaikan

Akibatnya, data menjadi tidak sinkron.

Kesalahan #6 β€” Terburu-buru Saat Lapor SPT

Mendekati batas waktu, banyak wajib pajak panik.

Hasilnya:

❌ salah input
❌ dokumen terlewat
❌ penghasilan tidak lengkap

Padahal kesalahan kecil bisa berdampak panjang.

πŸ‘‰ Lapor lebih awal selalu lebih aman.

Tanda Pelaporan Pajak Perlu Ditinjau Ulang

Beberapa kondisi berikut sebaiknya membuat Anda lebih teliti:

βœ” penghasilan naik signifikan
βœ” ada aset baru
βœ” memiliki beberapa sumber penghasilan
βœ” pindah pekerjaan

Situasi ini meningkatkan kompleksitas pajak.

Apakah Kesalahan Pasti Berujung Pemeriksaan?

Tidak selalu.

Namun semakin besar ketidaksesuaian data, semakin tinggi risikonya.

Yang perlu diingat:

Sistem perpajakan modern sangat mengandalkan pencocokan data.

Karena itu, konsistensi menjadi kunci.

Strategi Aman Agar Tidak Berisiko

Berikut langkah sederhana namun sangat efektif.

βœ… 1. Transparan Sejak Awal

Jangan menyembunyikan penghasilan.

βœ… 2. Simpan Dokumen

Minimal beberapa tahun.

βœ… 3. Lakukan Evaluasi Tahunan

Perubahan ekonomi = evaluasi pajak.

βœ… 4. Jangan Menunda Pelaporan

Hindari terburu-buru.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi?

Pertimbangkan bantuan konsultan profesional jika:

πŸ‘‰ penghasilan mulai kompleks
πŸ‘‰ memiliki usaha
πŸ‘‰ aset meningkat pesat

Ini bukan tanda masalah β€” justru langkah preventif.

Kesimpulan

Kesalahan pajak suami istri umumnya bukan disebabkan oleh niat buruk, melainkan kurangnya pemahaman terhadap aturan.

Dengan memahami risiko dan menerapkan strategi pelaporan yang tepat, pasangan dapat menjalankan kewajiban perpajakan dengan lebih tenang sekaligus meminimalkan potensi masalah di masa depan.

Pajak yang dilaporkan dengan benar bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga bentuk perlindungan finansial bagi keluarga.

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Coretax Pajak|Asisten Pajak