Tarif pajak progresif terbaru menjadi hal penting yang wajib dipahami setiap wajib pajak orang pribadi. Sistem pajak di Indonesia menggunakan mekanisme progresif, artinya semakin tinggi penghasilan kena pajak (PKP), semakin tinggi pula tarif yang dikenakan pada lapisan berikutnya.
Sayangnya, masih banyak wajib pajak yang keliru memahami konsep progresif. Tidak sedikit yang mengira ketika penghasilan naik ke lapisan berikutnya, maka seluruh penghasilan langsung dikenakan tarif lebih tinggi. Padahal, perhitungannya tidak demikian.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai tarif pajak progresif terbaru, lapisan tarif yang berlaku, hubungan dengan PTKP, contoh simulasi rinci, serta strategi agar tidak salah menghitung pajak.
Apa Itu Tarif Pajak Progresif?
Tarif pajak progresif adalah sistem pengenaan pajak yang tarifnya meningkat sesuai dengan besarnya penghasilan kena pajak. Sistem ini dirancang untuk menciptakan keadilan pajak, di mana wajib pajak dengan penghasilan lebih tinggi membayar pajak dengan persentase lebih besar dibandingkan mereka yang berpenghasilan lebih rendah.
Dalam konteks Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi, tarif progresif diterapkan setelah penghasilan dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Artinya, tarif progresif tidak langsung dikenakan atas seluruh penghasilan bruto, melainkan atas penghasilan kena pajak (PKP).
Lapisan Tarif Pajak Progresif Terbaru
Berikut adalah lapisan tarif pajak progresif orang pribadi yang berlaku saat ini:
| Lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP) | Tarif Pajak |
|---|---|
| Sampai dengan Rp60.000.000 | 5% |
| Di atas Rp60.000.000 β Rp250.000.000 | 15% |
| Di atas Rp250.000.000 β Rp500.000.000 | 25% |
| Di atas Rp500.000.000 β Rp5.000.000.000 | 30% |
| Di atas Rp5.000.000.000 | 35% |
Penting untuk dipahami bahwa tarif ini berlaku berlapis, bukan flat.
Bagaimana Cara Kerja Pajak Progresif?
Konsep progresif berarti setiap lapisan dikenakan tarif berbeda sesuai batasnya.
Misalnya, jika PKP Anda Rp100.000.000, maka:
- Rp60.000.000 pertama dikenakan 5%
- Sisanya Rp40.000.000 dikenakan 15%
Bukan seluruh Rp100.000.000 dikenakan 15%.
Kesalahan memahami hal ini sering menyebabkan salah persepsi tentang beban pajak.
Simulasi Perhitungan Lengkap Tarif Pajak Progresif
Contoh 1: PKP Rp80.000.000
- Rp60.000.000 x 5% = Rp3.000.000
- Rp20.000.000 x 15% = Rp3.000.000
Total Pajak = Rp6.000.000
Contoh 2: PKP Rp300.000.000
- Rp60.000.000 x 5% = Rp3.000.000
- Rp190.000.000 x 15% = Rp28.500.000
- Rp50.000.000 x 25% = Rp12.500.000
Total Pajak = Rp44.000.000
Contoh 3: PKP Rp750.000.000
- Rp60.000.000 x 5% = Rp3.000.000
- Rp190.000.000 x 15% = Rp28.500.000
- Rp250.000.000 x 25% = Rp62.500.000
- Rp250.000.000 x 30% = Rp75.000.000
Total Pajak = Rp169.000.000
Hubungan Tarif Progresif dengan PTKP
Sebelum tarif progresif diterapkan, penghasilan harus dikurangi PTKP terlebih dahulu. Jika ingin memahami cara menghitung PTKP secara detail, baca juga artikel berikut:
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Terbaru
Tanpa memahami PTKP, perhitungan tarif progresif bisa keliru sejak awal.
Dampak Tarif Progresif bagi Wajib Pajak
Sistem progresif memiliki beberapa implikasi:
- Penghasilan kecil relatif ringan pajaknya
- Penghasilan besar berkontribusi lebih besar
- Mendorong keadilan fiskal
- Membutuhkan perencanaan pajak yang baik
Bagi pasangan yang sama-sama bekerja, penggabungan penghasilan bisa memengaruhi lapisan tarif. Simak pembahasannya di artikel berikut:
Pajak Suami Istri Sama-Sama Bekerja
Kesalahan Umum dalam Menghitung Pajak Progresif
1. Mengira Semua Penghasilan Kena Tarif Tertinggi
Padahal hanya lapisan tertentu yang dikenakan tarif lebih tinggi.
2. Tidak Mengurangi dengan PTKP
Ini menyebabkan pajak terlihat lebih besar dari seharusnya.
3. Salah Menghitung Lapisan
Kesalahan teknis ini sering terjadi saat menghitung manual.
Strategi Mengelola Pajak dalam Sistem Progresif
- Pastikan status PTKP akurat
- Lakukan simulasi sebelum lapor SPT
- Catat seluruh penghasilan dengan rapi
- Hindari asumsi tanpa dasar hukum
Jika terjadi ketidaksesuaian data, risiko klarifikasi bisa muncul. Untuk memahami potensi risiko tersebut, baca juga:
Tanda Anda Akan Diperiksa Pajak oleh DJP
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah tarif progresif berlaku untuk semua orang?
Tarif progresif berlaku untuk wajib pajak orang pribadi dalam negeri.
Apakah pajak progresif berubah setiap tahun?
Perubahan dapat terjadi melalui kebijakan fiskal pemerintah.
Apakah semakin tinggi penghasilan pasti rugi?
Tidak. Tarif progresif dirancang agar tetap adil dan proporsional.
Kesimpulan
Tarif pajak progresif terbaru merupakan bagian penting dalam sistem Pajak Penghasilan orang pribadi di Indonesia. Sistem ini bekerja secara berlapis dan hanya diterapkan pada penghasilan kena pajak setelah dikurangi PTKP.
Memahami cara kerja tarif progresif membantu wajib pajak menghitung pajak dengan benar, menghindari kesalahan administrasi, serta merencanakan keuangan secara lebih bijak.
Pada akhirnya, pemahaman yang baik terhadap tarif pajak bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga strategi pengelolaan keuangan yang sehat.




